Senin, 14 Juni 2010

MINORISASI TERHADAP PEREMPUAN

Kalau berbicara mengenai perempuan selalu sarat dengan deret panjang masalah yang menimpa perempuan dan hampir di semua sektor, mulai dari persoalan diskriminasi di tempat kerja, eksploitasi, dan kekerasan yang hampir dialami oleh semua pekerja domistik dan pekerja migrant perempun.

Memang sangat memperihatinkan hampir di semua sektor dan ruang perempuan di Negara-negara manapun juga selalu menjadi korban, memang kelihatanya sangat klise dan menjenuhkan akan tetapi persoalan ini masih perlu untuk diangkat menjadi isu nasional dan di carikan solusi terbaik

Meneropong Permasalahan Buruh Migran Perempuan

Serangkaian persoalan buruh migrant yang 90% di antaranya perempuan sudah menjadi persoalan lama serta menjadi isu nasional yang hingga saat ini pemerintah sendiri belum sanggup mengatasinya mulai dari masalah rekuitmet, pemberangkatan, penempatan bahkan sampai purna, kekerasan dan perlakuan tidak manusiawi dari majikan saat bekerja di Negara tujuan, adalah rangkaian pelanggaran yang kerap di alami buruh migran.

Disatu sisi pemberangkatan dan minat kerja ke luar negeri masih tinggi dan cenderung meningkat. Pada pekerja migrant perempuan, pelanggaran ini akan lebih berat karena relasi gender di kalangan masyarakat masih menomorduakan perempuan. Namun sampai saat ini pemerintah masih belum bisa optimal menyelesaikan masalah ini meskipun buruh migrant adalah penyokong devisa Negara terbesar

Perekrutan dan Pemberangkatan Pekerja Migran Perempuan

Menurut pandangan Pemerhati,aktivis dan pembela buruh migrant (Wawan, Koordinator P3BM dari Blitar) permasalahan ini sudah lama terjadi dan mengancam para pekerja migrant dan keluarganya, berbagai pelanggaran HAM serta bentuk kekerasan sering menimpa mereka

Permasalan yang di hadapi calaon buruh migrant pada saat rekuitmen dan pemberangkatan seringnya mereka di doktrin dengan janji-janji manis para calo,sponsor dan PJTKI padahal kenyataanya pekerjaan dan gaji tidak sesuai, serta kontrak yang tidak jelas bahkan cenderung di tipu serta di sekap oleh PJTKI, karena biasanya PJTKI men-stok Calon Buruh Migran sambil menunggu job order.

Para calon buruh migrant diperas untuk memenuhi kebutuhan selama di penampungan karena belum ada job order, Bahkan sering juga di temukan tenaga kerja yang tidak jelas nasibnya setelah mereka di berangkatkan, banyak diantara mereka yang pada saat pemberangkatan dijanjikan job order tetapi setelah tiba di Negara tujuan harapan itu tidak dipenuhi, sehingga tidak jarang dari mereka di oper dari satu user ke user lainya (majikan) sampai berkali-kali, Bagi buruh migrant illegal kondisi mereka semakin sengsara dan menyedihkan lagi mereka harus sembunyi-sembunyi dari polisi ketika harus menunggu job order karena mereka tidak memiliki job yang jelas.

Sedangkan pada saat pra pemberangkatan, masalah yang sering terjadi adalah pada pengurusan dokumen, pemalsuan dokumen dan lain-lain mengurus SKCK (dulu SKKB) saja sudah rumit belum lagi paspor serta kelengkapan pendukung lainya, Selama belum transparansi dan mekanisme yang jelas tentang penempatan buruh migrant yang benar itu seperti apa? Jadi belum ada informasi dan sosialisasi yang baik, dilakukan oleh PJTKI maupun pemerintah ke seluruh masyarakat terutama masyarakat yang tinggal di pedesaan yang jauh dari akses informasi itu.

Perekrutan Tidak Ubahnya Seperti Jual Beli (Perdagangan )

Saya berpandangan perekrutan buruh migrant tidak ubahnya seperti jual beli, karena PJTKI melakukan penyetokan dengan merekrut sebanyak-banyaknya calon buruh migrant lalu di tampung seadanya bahkan boleh di katakana tempat yang tidak layak sambil menunggu job order, bahkan semua biaya selama di penampungan dibebankan kepada calon buruh migrant, dalam hal ini pengusaha sangat di untungkan karena semua biaya selama dalam penampungan di bebankan kepada calon buruh migrant itu. Seharusnya harus ada job order dulu dengan kualifikasi yang di butuhkan majikan (pengguna) baru setelah itu PJTKI melakukan perekrutan, Mengingat untuk mendapatkan job order itu sangat sulit karena jumlah kebutuhan majikan tidak sebanding dengan jumlah suppai buruh migrant . Nah inilah yang kemudian menimbulkan banyak masalah banyak dari para calon buruh migrant menjual harta yang dimilikinya bahkan sampai berhutang pada rentenir tapi mereka sendiri belum tahu pasti kapan mereka akan di berangkatkan ke Negara tujuan.

Persoalan Lain yang sering Terjadi

PJTKI sering melakukan siasat dengan membuat perjanjian dengan buruh migran, Mereka bersedia mengirim dengan syarat memotong gaji yang di peroleh saat mereka bekerja dan buruknya lagi setelah potongan gaji mereka selesai buruh migran dideportasi dalam hal ini buruh migran hanya dijadikan sapi perahan saja yang sebenarnya dalam hal ini perdagangan manusia (traficking).

Faktor Penyebab Mereka Menjadi Buruh Migran

Dalah hal ini disebabkan ketidakberdayaan dan ketidakmampuan perempuan dalam mengatasi masalah tuntutan ekonomi yang semakin mendesak dan mereka membayangkan kalau mereka bekerja kaluar negeri pasti mendapat gaji yang besar, karena demikian kenyataannya ini di benarkan lagi oleh mereka yang sudah pernah bekerja di luar negeri

Sementara kehidupan didalam negeri tidak mencukupi tuntutan hidup, Sulitnya mencari pekerjaan , hasil pertanian yang tidak memungkinkan untuk mendapat keuntungan yang layak merupan alas an mereka memutuskan untuk menjadi buruh migran
Persoalan lain adalah sumber daya manusia yang rendah kerena akses pendidikan dan keterampilan sangat terbatas khususnya untuk masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, akhirnya dengan jalan apapun mereka menerima atau memutuskan untuk bekerja di luar negeri walaupun harapan tak sesuai impian mereka hal ini di perburuk lagi karena mereka tidak tahu apa yang menjadi hak-hak mereka.

Yang Harus Dilakukan Pemerintah

Dalam hal ini pemerintah harus lebih urgen lagi dalam membuat kebijakan-kebijakan yang tentunya lebih memihak pada buruh migran dan keluarganya serta melakukan verifikasi dan validasi terhadap PJTKI-PJTKI dan melakukan pengawasan terhada para Sponsor, Calo Dan PJTKI guna meminimalisir sekecil mungkin agar permasalahan yang menimpa buruh migran kita dapat segera di atasi dan mendapat solusi terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar